Indonesiaku...oh...Indonesiaku!
Keluar dari apartemen Ibu Liz, muridku, aku berjalan kaki menuju jalan raya. Di halte aku menyetop metromini jurusan Blok M. Di sebelahku duduk seorang bapak berusia setengah baya. Dengan asyiknya dia merokok. Tampaknya, dia sama sekali tidak menyadari atau bahkan tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir asap rokok itu dari mereka. Karena tidak tahan asap, kucolek bahu bapak tersebut. "Pak, maaf, asap rokoknya ke arah sini."
Mau tahu jawaban bapak tersebut? "Wah, sayang, dong, mbak, rokoknya masih panjang." Aku hanya bisa mengelus dada. Benar-benar mengelus dada karena pasti penyakit bronkitisku kambuh lagi.
Tak lama aku sampai di Blok M dan kemudian aku lanjutkan perjalanan ke sebuah plaza di kawasan Semanggi. Hari itu aku ada janji dengan seorang teman lama. Kami sepakat untuk bertemu di restoran cepat saji. Temanku belum datang. Kupilih tempat duduk di sudut. Di sebelahku, duduk sepasang suami istri dengan anak mereka yang berusia kira-kira dua tahun. Dengan babysitter-nya, tentu saja. Di dalam hati, aku tersenyum, ingat kata-kata Pak Takahashi, muridku yang lain, beberapa waktu yang lalu. "Kami di Jepang tidak pernah memakai jasa babysitter. Anak-anak kami asuh sendiri. Apalagi kalau cuma satu orang. Orang Indonesia manja sekali, yaa..." Aku agak terkejut. Heran juga, Pak Takahashi yang pendiam dan pemalu itu bisa berkomentar seperti itu.
Satu jam sudah lewat dari janji. Temanku belum datang juga. Dua gelas minuman sudah habis kuteguk. Sebelum aku meneleponnya, akhirnya dia muncul. Dengan santai dia menghampiriku. "sorry, jalanan macet, sih.. Oh, ya, jam lima aku harus ketemu dengan temanku yang lain." Pada saat itu aku tidak tahu apa harus marah atau bagaimana. Akhirnya aku menjawab, "Lebih baik kamu pergi sekarang. Kasihan temanmu nanti menunggu terlalu lama."
Maksudku sebenarnya untuk menyindir. Tapi rupanya temanku itu tidak merasa sama sekali, he-he-he! Tidak apa-apa. Mungkin memang aku tidak penting baginya. Hal ini jarang sekali terjadi pada murid-muridku. Kalaupun mereka terlambat, pastilah ada sesuatu terjadi di luar dugaan. Dan itu pasti disertai perasaan bersalah dan permintaan maaf berkali-kali.
Untuk mengobati kekesalanku, aku berjalan-jalan keliling mal. Di mana-mana kulihat orang berpakaian batik. Setelah batik diklaim milik negara lain, orang beramai-ramai mengenakan batik. Hmm...
Aku mencari toko tas. Ada beberapa toko yang kumasuki. Rata-rata menjual tas merek luar negeri. Palsu, tentu saja. Aku sempat tanya kenapa mereka tidak menjual tas lokal saja. Mereka bilang, produk merek luar negeri lebih laris.
Kakiku mulai pegal. Aku memutuskan untuk pulang. Kupandangi mal yang terletak di pusat kota itu. The Plaza Semanggi. Struktur bahasa yang aneh. Aku tidak mengerti si pemberi nama ingin berbahasa Inggris atau Indonesia. Sebab kalau ingin menggunakan bahasa Inggris seharusnya The Semanggi Plaza, kan?
Ah! Akhirnya datang juga bis menuju rumahku. Para penumpang berebut masuk ke dalam bis. Aku masuk hampir paling belakang karena kalah dari para pria yang tentunya lebih gesit meloncat ke dalam bis. Di dalam bis, sudah tidak ada tempat duduk kosong. Aku terpaksa berdiri. Konsekuensi emansipasi, he-he-he!
Di jalan beberapa kali aku melewati bioskop. Beberapa film Indonesia terpampang. Eh...film Indonesia? Judul-judulnya saja berbahasa Inggris, kok. Entah apa maksudnya. Mungkin supaya terlihat lebih keren? Mungkin juga film-film itu akan diekspor? Kenapa film-film India dan Mandarin yang sudah diekspor ke mana-mana tetap mempertahankan bahasa mereka?
Belum sampai di tempat tujuan, kondektur berseru untuk pindah ke bis di belakang bis yang kami tumpangi. Yang mengherankan, semua orang patuh mengikuti perintah sang kondektur. Aku protes. Setelah berdebat beberapa lama, kondektur itu memberikan uangku kembali. Lumayan, meskipun itu belum seberapa untuk menggantikan ongkos taksi yang membawaku pulang. Paling tidak, aku tidak mau mengikuti perintah kondektur tak bertanggung jawab itu...
Hampir setiap hari aku mendapat pengalaman seperti yang kau ceritakan di atas. Kalau untuk hal-hal kecil saja kita sudah tidak peduli, bagaimana dengan hal-hal besar? Seperti masalah bangsa, misalnya?
Padahal, identitas suatu bangsa ditandai oleh bahasa, kebudayaan, dan masyarakatnya. Apa jadinya suatu bangsa kalau masyarakatnya untuk melakukan hal-hal yang kecil saja belum terbiasa? Percaya diri dan menghormati orang lain mungkin merupakan awal untuk sesuatu yang besar....

Subcribe RSS of this blog
Ada 1 buah komentar untuk Info: Jangan Lupa mengikuti event Flexter Blogging!
Add A Comment